Kamis, 16 Januari 2014

ADOPSI DAN DIFUSI INOVASI DALAM PENYULUHAN KEHUTANAN



           Adopsi, dalam proses penyuluhan pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psychomotoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasarannya.

           Pengertian adopsi sering rancu dengan “adaptasi” yang berarti penyesuaian. Di dalam proses adopsi, dapat juga berlangsung proses penyesuaian, tetapi adaptasi itu sendiri lebih merupakan proses yang berlangsung secara alami untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan

           Rogers dan Shoemaker (1971) mengartikan inovasi sebagai: ide – ide baru, praktek – praktek baru, atau objek – objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan.

            Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi saja, tetapi mencakup: ideologi, kepercayaan, sikap hidup, informasi, perilaku, atau gerakan – gerakan menuju kepada proses perubahan didalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat.

PERANAN PENYULUHAN KEHUTANAN DALAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI INDONESIA


1. Peran Penyuluh Kehutanan Dalam Memotivasi Masyarakat

          Perubahan yang terjadi pada masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK ) tidak terlepas dari peran penyuluh kehutanan yang bertugas di desa Tunggul Boyok. Peran
penyuluh dalam memotivasi masyarakat dimulai dengan memberikan contoh nyata kepada
masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat dalam rangka pelestarian sumberdaya hutan dan
lingkungan terutama pengembangan hasil hutan bukan kayu akan berhasil apabila masyarakat
telah menyadari dan termotivasi untuk mengembangkan kemandiriannya dan menjaga kelestarian
lingkungannya. Kesadaran masyarakat tersebut akan tumbuh apabila mereka memahami pentingnya
kemandirian dan kelestarian lingkungan.

DAMAR


          Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal.

Pemerian dan habitat
          Pohon yang besar, tinggi hingga 65m; berbatang bulat silindris dengan diameter yang mencapai lebih dari 1,5 m. Pepagan luar keabu-abuan dengan sedikit kemerahan, mengelupas dalam keping-keping kecil.[ Daun berbentuk jorong, 6–8 × 2–3 cm, meruncing ke arah ujung yang membundar. Runjung serbuk sari masak 4–6 × 1,2–1,4 cm; runjung biji masak berbentuk bulat telur, 9–10,5 × 7,5–9,5 cm. Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 m dpl. Namun di Jawa, tumbuhan ini terutama ditanam di pegunungan.

Proses Produksi Damar

Damar diperoleh dari proses penyadapan getah (hasil eksudasi) dari pohon:
1. Family Dipterocarpaceae:
a) Shorea spp.(S. javanica;S. lamellata; S. virescens; S. retinoldes; S. guiso; S. robusta; S.  lativolia)
b)  Hopea spp. (H. dryobalanoides; H. celebica; H. sangal; H. mengarawan)
c)  Vatica spp. ( V. rassak)
d) Vateria spp.; Balanocarpus spp.
2. Family Burseraceae: Canarium spp.

BURUNG WALET

 



Burung walet adalah burung dari keluarga Apodidae. Burung ini mirip dengan burung layang-layang, namun sebenarnya sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatannya dengan spesies burung pengicau. Burung walet lebih masuk dalam ordo Apodiformes, satu ordo dengan burung kolibri.
            Walet adalah salah satu jenis burung sangat istimewa. Liur burung walet atau sering disebut sarang burung walet berharga mahal. Banyak gedung walet dibangun untuk tempat bersarang burung walet. Banyak orang  tertarik budidaya walet. Mereka berharap dapat hasil melimpah dengan panen sarang walet. Sarang walet adalah komoditas ekspor. 
            Kemiripan antara burung walet dengan burung layang-layang merupakan akibat dari evolusi konvergen, dimana kedua jenis burung memiliki gaya hidup yang sama, yakni menangkap serangga pada saat terbang. Nama keluarga Apodidae diambil dari bahasa Yunani kuno απους, apous, yang berarti "tanpa kaki". Hal ini disebapkan burung walet memiliki kaki yang sangat pendek, dan sangat jarang berdiri di tanah, melainkan lebih suka menggantung di permukaan yang tegak lurus.




CARA BUDIDAYA WALET (Langkah Awal)

     Dalam budidaya walet dibutuhkan beberapa persyaratan agar burung mau datang dan membuat sarang.Berikut ini beberapa persyaratan yang diperlukan :

SAGU


         Sagu adalah tepung atau olahannya yang diperoleh dari pemrosesan teras batang rumbia atau "pohon sagu" (Metroxylon sago Rottb.). Tepung sagu memiliki karakteristik fisik yang mirip dengan tepung tapioka. Dalam resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit diperoleh sering diganti dengan tepung tapioka sehingga namanya sering kali dipertukarkan, meskipun kedua tepung ini berbeda.
        Sagu adalah jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Jenis makanan ini banyak ditemui di wilayah Indonesia bagian timur seperti Maluku dan Irian serta sebagian di wilayah Sulawesi. Pada dasarnya sagu menjadi bahan makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat yang minim akan tanaman padi. Beras hanya dikonsumsi pada saat waktu tertentu saja, selebihnya mereka akan mengkonsumsi sagu, jagung, umbi-umbian dan ketela. Jenis makanan pokok ini berasal dari sari pati umbi-umbian, sering digunakan sebagai bahan makanan lainnya. Sagu sebenarnya memiliki peran yang sama seperti beras dan jagung pada umumnya yaitu sebagai sumber makanan pokok yang mengandung unsur karbohidrat

Olahan Makanan Dari Sagu

       Pada umumnya sagu memang hanya dikonsumsi dalam bentuk batangan, namun rupanya dapat diolah menjadi berbagai variasi makanan. Seperti bubur sagu, bahan campuran kue, puding, papeda (makanan khas Maluku yang dimakan dengan ikan cakalang). Olahan ini memang sangat enak untuk dikonsumsi, rasanya yang lezat dan manis dapat membuat perut kita terasa kenyang. Yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas adalah bubur mutiara. Mutiara ini terbuat dari sari pati sagu yang dibentuk bola-bola kecil, paling enak jika dimakan dengan kuah santan yang gurih dan manis. Sagu juga bisa dibuat hingga menjadi tepung yang berguna untuk membuat kue, dan sebagai larutan pengental pada masakan.

Kamis, 09 Januari 2014

KEDUDUKAN PENYULUHAN KEHUTANAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN




           Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan YME serta sadar akan pentingnya sumberdaya hutan bagi kehidupan manusia. Mengingat pentingnya penyuluhan kehutanan, maka tugas Penyuluh Kehutanan merupakan ujung tombak pembangunan kehutanan, yang bisa berfungsi sebagai aktor perekat yang mampu menjembatani kepentingan pemerintah dan kepentingan masyarakat. Peranan penyuluh kehutanan menjadi sangat penting dan strategis sebagai mediator, inovator, motivator maupun transformator yang akan merajut akar permasalahan di dalam masyarakat.
        Yang dimaksud penyuluhan atau pendidikan pembangunan disini adalah, pendidikan pembangunan yang mencakup: pendidikan pembangunan untuk petani dan keluarganya, pendidikan pembangunan bagi penyuluh atau petugas penyuluhan, dan latihan keterampilan teknik budidaya dan manajemen usaha-tani hutan bagi pelaksana lapangan.

       Fungsi dan peran Penyuluh Kehutanan dalam sistem penyuluhan Kehutanan, kehutanan sesuai UU. No. 16 Tahun 2006, yaitu:

Rabu, 27 November 2013

BEBERAPA PRODUK TUMBUHAN MONOKOTIL (ROTAN)



Tempat tumbuh Rotan
            Rotan merupakan tumbuhan memanjat yang gigih dan hampir dapat tumbuh di setiap daerah seperti : Species Calamus manan dan C. ornatus, yang tumbuh di Hutan Primer dan species Plectocomiopsis geminiflora tumbuh dihutan sekunder karena membutuhkan banyak cahaya dalam perkembangan tumbuhnya.Habitat rotan pada umumnya pada daerah yang tinggi, tumbuh normal pada daerah yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Sedikit rotan yang mampu bertahan hidup pada daerah yang kering dan daerah yang tergenang air atau banjir berkepanjangan.

Daerah Penghasil Rotan
            Hutan Alam pada umumnya merupakan daerah penghasil rotan, selanjutnya dari hasil budidaya atau perkebunan. Perkebunan rotan awalnya yang paling berhasil adalah di dalam kawasan sekitar Barito, Kapuas, Kahayan di Kalimantan sekitar tahun 1850 an (van Tuil, 1929) setelah itu berkembang ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Timur peladang berpindah selama kurun waktu yang cukup lama telah menanam Calamus caesius di tanah hutan yang dibiarkan kosong setelah penebangan dan produksi tanaman pangan (Weinstok, 1983).